Ikan Mati Massal Bahaya Jika Dikonsumsi, Waspada Paparan Zat Kimia
Foto: Tangkapan layar ikan di keramba Kampung Selambai yang mati. (Ist)
BONTANG – Dinas Kesehatan Kota Bontang mengimbau warga tidak mengonsumsi atau menjual ikan yang mati massal di perairan Loktuan dan Tanjung Limau dalam beberapa waktu terakhir.
Kepala Dinkes Bontang, drg. Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan penyebab kematian ikan secara massal tersebut hingga kini belum diketahui.
Secara ilmiah, kematian ikan secara mendadak dapat disebabkan oleh pencemaran perairan, perubahan kualitas air, kekurangan oksigen, maupun paparan zat kimia atau toksin tertentu.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kontaminasi pada jaringan ikan. Selain itu, setelah mati, proses pembusukan ikan berlangsung cepat akibat aktivitas mikroorganisme dan enzim. Hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila ikan dikonsumsi.
"Kami sarankan untuk tidak dikonsumsi dan dijual. Karena tidak diketahui ada partikel apa di dalam ikan tersebut," ucap Toetoek.
Lebih lanjut, Dinkes menyebut memasak ikan yang mati massal tersebut juga tidak serta-merta menghilangkan bahaya toksin atau cemaran kimia tertentu.
Dengan demikian, secara klinis, ikan yang mati secara massal tidak boleh diperjualbelikan maupun dikonsumsi sebelum diketahui penyebab kematiannya melalui pemeriksaan dan pengujian oleh instansi berwenang.
"Kami ingin warga lebih waspada. Tidak terbujuk mengambil ikan yang mati. Tunggu ada hasil laboratorium," sambungnya.
Diberitakan sebelumnya, dugaan pencemaran lingkungan di perairan Kampung Selambai, Kelurahan Loktuan, kembali mencuat setelah ikan di tempat budidaya keramba mati massal pada Kamis (5/11/2026) sore.
Ketua Kelompok Budidaya Ikan Biru Loktuan, Ardi, menyampaikan bahwa banyak ikan mati dan mengalami kondisi mabuk (teler) sejak Selasa (3/11/2026).
Total sudah ratusan ikan yang mati. Insiden itu menimpa setidaknya 11 anggota dengan total keramba mencapai 17 titik. Setiap keramba bahkan kehilangan sekitar 50 ekor ikan dalam sehari.
"Ini kalau dibiarkan berlarut, kami alami kerugian. Airnya hitam dan berbusa lagi. Kami minta hasil sampling cepat keluar. Kemudian dibuka secara publik apa penyebab ikan mati," ucap Ardi. (*)
Ikuti berita-berita terkini dari
klikkaltim.btekno.id
dengan mengetuk suka di halaman Facebook kami berikut ini: